MKJP Dipasang, Hati Tenang, Keluarga Senang

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) RI, laju pertumbuhan penduduk Indonesia sampai dengan saat ini Juli 2015 mencapai angka 255.708.785 jiwa. Dimana angka tersebut mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Laju pertumbuhan penduduk yang terus mengalami peningkatan akan berimbas pada kesejahteraan penduduk itu sendiri. Contoh, ada seratus bayi yang lahir hari ini, maka pemerintah harus menyiapkan seratus bangku pendidikan, seratus lapangan kerja, seratus tempat tinggal serta bertambahnya fasilitas kesehatan.

Bila melihat contoh diatas, erat kaitannya antara pertumbuhan penduduk dengan kesejahteraan. Untuk itu pemerintah Indonesia terus berupaya menekan laju pertumbuhan penduduk melalui program Keluarga Berancana (KB).

Di Kabupaten Kuningan sendiri, program Keluarga Berencana terus digaungkan melalu berbagai kegiatan oleh Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (BKBPP) Kabupaten Kuningan. Sehingga kesadaran masyarakat Kuningan untuk ber-KB cukup tinggi, namun bukan berarti program KB tersebut tidak mengalami kendala. Salah satu kendala yang dihadapi BKBPP Kabupaten Kuningan, masih rendahnya angka pengguna Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP).

Berdasarkan data yang disampaikan Kabid KB Drs. H. Tedy Noviandi M,Si melalui Kasubid Jampel (Jaminan dan Pelayanan) Drs. Uu Kurniadi, Is menjelaskan kepada Info Kuningan, Senin (6/7/2015) bahwa di tahun 2014 pengguna MKJP mencapai 27% mengalami kenaikan hanya sebesar 3% dari tahun 2013, berbanding terbalik dengan pengguna alat kontrasepsi jangka pendek yang kenaikannya cukup signifikan.

“Untuk pengguna MKJP seperti IUD, implant, MOP (Metode Operasi Pria), dan MOW (Metode Operasi Wanita) kenaikannya hanya 3% di tahun 2014 yakni 27%. Itu masih kalah dibandingkan dengan yang menggunakan alat kontrasepsi jangka pendek seperti, suntik, pil KB dan kondom, karena masyarakat merasa lebih simpel menggunakan alat kontrasepsi itu.” Kata Uu.

Selanjutnya Uu menjelaskan, ada beberapa faktor lain yang menjadikan minimnya pengguna MKJP yaitu masyarakat masih menganggap hal itu tabu. “Selain lebih memilih alat kontrasepsi jangka pendek, masyarakat menganggap menggunakan MKJP merupakan hal yang tabu karena dianggap mempertontonkan aurat.” Ujar Uu.

Bila dilihat dari segi keuntungan, masih menurut Kasubid Jampel, MKJP lebih efektif, efisien, ekonomis dan aman. Efektif dari segi pemasangan, efisien dari segi waktu yang cukup lama, ekonomis dari segi biaya, dan aman dari segi kesehatan dibandingkan dengan metode KB suntik atau pil KB yang bisa mengganggu hormon dalam tubuh. Untuk meningkatkan jumlah pengguna MKJP di Kabupaten Kuningan, menurut Kasubid Jampel, BKBPP telah bekerjasama dengan 37 Puskesmas, 4 Rumah Sakit, dokter keluarga, dan bidan praktek swasta utntuk memberikan pelayanan MKJP. Selain itu BKBPP mengadakan pelatihan rutin CTU (Contrasepsi Training Update) untuk para bidan dalam pelayanan KB IUD dan implant.

“Selain bekerjasama dengan puskesmas, rumah sakit, dokter dan bidan, untuk meningkatkan jumlah pengguna MKJP, di Kab. Kuningan telah dibentuk DWG (District Working Group) yang akan membantu dalam hal advokasi ke Bupati dan para stake holder untuk mencapai target 35% dari tahun sebelumnya.” Jelas Uu.

Uu berharap, melalui MKJP masyarakat dapat menunda kehamilan dan mengatur jarak kelahiran sehingga anak-anak mendapatkan perhatian, kasih sayang dan pendidikan yang cukup dari orang tua. Dengan begitu akan tercipta keluarga yang berkualitas dan sejahtera. (MC Kuningan / Yudi-Aph)